Thursday, June 9, 2011

Ringkasan Tafsir Surah As-Shaff Ayat 2 Dan 3


Ringkasan Tafsir surah As Shaff, ayat 2 dan 3 dari Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Qurthubi

Surah As Shaff

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (As Shaff:2-3)

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir

Ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang membuat janji atau mengatakan sesuatu dan tidak melaksanakannya, Oleh karena itu diantara ulama salaf ada yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa memenuhi janji itu wajib secara mutlak, baik janji tersebut mengakibatkan hukuman bagi yang berjanji, ataupun tidak.l Mereka juga beralasan dengan hadits yang tercatat dalam ash-Shahiihain, dimana Rasulullah SAW telah bersabda, "Tanda-tanda orang munafik itu tiga, : bila berjanji dia ingkar, bila berkata dia dusta, dan bila dipercaya dia khianat"

Dalam hadis lain disebutkan, "Ada empat perkara yang apabila (semuanya) ada pada diri seseorang, maka ia menjadi munafiq tulen. Dan barang siapa salah satunya ada padanya, maka (dikatakan) ia memiliki satu ciri dari orang munafiq, hingga dia meninggalkannya" (HR. Muttaffaq alaih)

Diantara para ulama ada juga yang berkata, "Ayat in diturunkan berkenaan dengan peperangan. Seorang laki-laki mengatakan bahwa dirinya telah berperang, padahal dia tidak melakukannya. Ia mengatakan bahwa dirinya telah menikam musuh, padahal ia tidak melakukannya. Ia katakan bahwa dirinya telah bersabar tetapi dia tidak melakukannya."

Kita lihat, saat ini banyak manusia sering untuk menyuruh yang ma'ruf maupun meninggalkan yang munkar, namun mereka sendiri tidak melaksanakan apa yang mereka perintahkan/anjurkan. Misalnya banyak para pemimpin (baik politik, perusahaan, dll) mengatakan, marilah kita bekerja sama memberantas korupsi..namun seringkali mereka yang menganjurkan untuk memberantas korupsi.juga terlibat dalam korupsi.. Ada juga anjuran dilarang untuk mencuri, namun justru merekalah yang malah mencuri..

Semoga kita terlindung dari kemurkaan Allah dan terhindar dari sifat Munafiq...Amin...

Ringkasan Tafsir Al Qurthubi.

Asbabun nuzul ayat , Abdullah bin Salam berkata, "Sekelompok sahabat Rasulullah SAW mempersilahkan kami mampir, kemudian kami berdiskusi. Kami berkata, 'Seandainya kami mengetahui amalan apakah yang paling disukai oleh Allah Ta'ala, niscaya kami akan mengerjakannya. 'Allah Ta'ala kemudian menurunkan ayat ini...."Telah Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan......."dst sampai akhir ayat ke 3.'

Qatadah dan Adh-Dhahak berkata, "Ayat ini turun pada kaum yang berkata, 'Kami akan berjihad dan kami akan mati.' Namun mereka tidak melakukan (hal itu)

Ayat ini mewajibkan semua orang yang telah mewajibkan dirinya mengerjakan sebuah amalan ketaatan, bahwa dia harus memenuhi hal itu.

Sesuatu yang diwajibkan seperti Nadzar :

Nazar ini sendiri ada dua bagian :

1. Nazar untuk mendekatkan diri kepada Allah sejak awal, seperti ucapan seseorang : Aku akan menunaikan solat, puasa, sedekah, dan berbagai bentuk pendekatan diri lainnya kepada Allah. Nazar seperti ini wajib untuk dipenuhi. Hal ini telah disepakati oleh para ulama.

2. Nazar Mubah, yaitu nazar yang dikaitkan kepada syarat yang diinginkan, misalnya ucapan seseorang ; Jika milikku yang hilang kembali, aku akan bersedekah. Atau dikaitkan pada syarat yang ditakuti, misalnya ucapan seseorang : Jika Allah memelihara aku dari keburukan anu, maka aku akan bersedekah. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini (Bentuk nadzar ke dua)

Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa dia wajib memenuhi nazar tersebut. Sementara Imam Syafi'i mengatakan pada salah satu pendapatnya, bahwa dia tidak wajib memenuhi nazar tersebut.

Namun keumuman ayat ini merupakan hujjah yang memperkuat pendapat kami (Imam Qurthubi) sebab ayat ini secara absolut mengecam orang yang mengatakan sesuatu, namun dia tidak melakukannya, apapun itu bentuknya, baik yang mutlak ataupun yang dibatasi oleh syarat.

An-Nakha'i berkata, "Ada 3 ayat yang menghalangiku untuk menyampaikan riwayat kepada orang-orang (Pertama Firman Allah Ta'ala), 'Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri' (QS. Albaqarah: 44). (Kedua, Firman Allah Ta'ala) Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang (QS Hud:88) (Ketiga, Firman Allah) Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan (QS Ash Shaff:3)

Abu Nu'aim Al Hafizh meriwayatkan dari hadis Malik bin Dinar, bahwa Anas bin Malik berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Aku mendatangi suatu kaum pada malam Isra' yang lidahnya digunting dengan gunting api. Setiap kali lidahnya digunting, maka panjang kembali lidah itu. Aku bertanya (kepada malaikat Jibril), "Siapakah mereka, wahai Jibril? "Jibril menjawab, "Mereka adalah para khatib dari ummatmu yang mengatakan (sesuatu) namun mereka tidak mengerjakan(nya) dan mereka membaca kitab Allah namun mereka tidak mengamalkan(nya) (HR Ibnu Abi Daud dalam Al Mashahif, HR Baihaqi dalam Syu'ab Al Iman dan As Suyuthi dalam Al Jami' Al Kabir)

Firman Allah Ta'ala, "Kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" Firman Allah tersebut merupakan sebuah Pertanyaan (Istifhaam) yang mengandung makna pengingkaran dan cemoohan. Sebab manusia mengatakan (memerintahkan) kepada kebaikan, padahal dia sendiri tidak mengerjakannya. Sufyan bin Uyainah menakwilkan ayat diatas sbb "Kenapakah kalian mengatakan sesuatu yang tidak diperintahkan kepada kalian, sehingga kalian tidak tahu apakah kalian boleh mengerjakan atau tidak boleh mengerjakan.

Firman Allah Ta'ala "Amat besar kebencian Allah di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" Firman Allah Ta'ala diatas merupakan dalil tentang diwajibkannya memenuhi/menepati (apa yang dikatakan) dalam keadaan tertekan dan marah, menurut salah satu dari pendapat Asy-Syafi'i.

Wallahua'lam..

Wednesday, May 18, 2011

DEMI MASA. Detik - detik penting dalam Diary Seorang Pejuang.

DEMI MASA.
Detik - detik penting dalam Diary Seorang Pejuang.

Masa dalam kehidupan seorang pejuang

Kehidupan manusia adalah bergantung kepada penggunaan masanya. Oleh itu, Islam amat mengambil berat tentang masa dan memberitahu manusia bahawa setiap detik masanya adalah amat berharga. Sudah cukup untuk menggambarkan betapa besarnya nilai masa dalam Islam dengan Allah sendiri bersumpah dengan masa dalam firmanNya yang selalu didengar;

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

(Surah al-‘Asr. Ayat : 1-3)

Dalam ayat di atas Allah bersumpah dengan masa bagi menunjukkan kepada manusia sekeliannya bahawa masa menjadi saksi terhadap berjaya atau gagalnya manusia, untung atau ruginya mereka.

Manusia yang berjaya dan beruntung ialah manusia yang memanfaatkannya masanya di dunia (untuk beriman, beramal soleh, melaksanakan perintah Allah dan sebagainya bagi bekalan ke akhirat) dan manusia yang gagal dan rugi ialah manusia yang mensia-siakan masanya.

Imam asy-Syafi’ie pernah dalam satu ungkapannya berkata tentang surah ini :

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاْسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

“Jika manusia memerhati dan mengambil pengajaran dari surah ini, maka memadailah bagi mereka”.

Dalam satu hadis Rasulullah s.a.w. memberi galakan kepada kita supaya memanfaatkan masa dengan sebaik mungkin. Sabda baginda;

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَغِناَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

“Manfaatkanlah lima masa sebelum datang lima masa;

Masa hidup kamu sebelum datang saat mati kamu
Masa sihat kamu sebelum datang masa sakit kamu
Masa lapang kamu sebelum datang masa sibuk kamu
Masa muda kamu sebelum datang masa tua kamu.
Masa kamu kaya sebelum datang masa kamu ditimpa miskin.

(Hadis riwayat Imam al-Hakim
dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas r.a.)
[1]

Bahkan di akhirat nanti, manusia akan dihisab setiap detik masa yang ia lalui di dunia; bagaimana ia gunakannya? Adakah ke arah kebaikan atau kejahatan? Adakah ia manfaatkannya atau ia sia-siakannya? Inilah yang diceritakan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis baginda;

لاَ تَزُوْلُ قَدَمًا عَبْدٌ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ فِيْهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ‏

“Tidak akan berganjak dua kaki seorang hamba Allah (dari tempat hisab di padang mahsyar) sebelum ia ditanya berkenaan :

Umurnya (yakni masa-masa di sepanjang umurnya); bagaimana ia habiskannya? , Ilmunya; bagaimana ia amalkannya? , Hartanya; dari mana ia perolehi dan cara mana ia belanjakannya? , Tubuh-badannya; bagaimana ia gunakannya?

(Hadis riwayat Imam at-Tirmizi dari Abi Barzah Nadhlah ibn ‘Abid al-Aslami)[2]

Imam asy-Sya’rani ketika mengulas tengtang hadis ini dalam kitabnya al-‘Uhud al-Muhammadiah, berkata; “Inilah empat perkara pokok yang akan ditanya setiap hamba mengenainya (di akhirat). Adapun yang selainnya adalah perkara-perkara cabang/sampingan sahaja”.

Memandangkan bahawa masa amat penting dalam Islam, maka seorang muslim hendaklah memberi perhatian bersungguh-sungguh terhadap masa.

Ia hendaklah membina kesedaran yang tinggi terhadap penjagaan masa dan menggunakannya semaksima mungkin untuk mencapai cita-cita dan matlamat hidup sebagai seorang muslim dan mukmin untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Antara 10 Muwasafat Tarbiyyah juga ada dimasukkan perkara yang berkaitan masa iaitu seorang dae'i perlulah SANGAT MENJAGA MASA.

Perlunya mujahadah untuk mendidik diri menghargai masa

Namun, perlu kita sedari bahawa seorang insan itu tidak akan berjaya memanfaatkan masanya sebaik mungkin tanpa mujahadah kerana ia berdepan dengan dua musuh utama (dalaman dan luaran) yang sentiasa meruntunnya untuk leka dan lalai di dunia dan mensia-siakan waktunya. Dua musuh itu ialah;

Hawa nafsu
Syaithan

Hawa nafsu adalah musuh yang paling mencabar bagi manusia kerana ia berada di dalam dirinya. Hawa nafsu adalah teman setia manusia yang sentiasa mendampinginya ke mana sahaja ia pergi. Namun hawa nafsulah yang bakal akan menghancurkan manusia jika manusia tidak hadapinya dengan mujahadah.

Ada beberapa tabi’at buruk yang menjadi factor kegagalan kita menggunakan masa dengan sebaiknya sebagaimana yang dituntut agama.

Tidak mengetahui atau tidak menyedari; apa matlamat kehidupan kita di atas muka dunia ini? Kenapakah Allah menjadikan kita di atas muka dunia ini?

Sikap malas, sambil lewa, tidak bertanzim, sukakan kerehatan, leka, lalai, membuang waktu dan sebagainya.

Tidak mengetahui al-aulawiyat (keutamaan-keutamaan) dalam hidup; mana perkara-perkara yang penting yang perlu diberi perhatian? dan mana pula perkara-perkara yang tidak penting yang perlu diketepikan?

Tabiat suka bertangguh

Semua tabi’at buruk di atas mesti dihadapi oleh kita dengan bermujahadah terhadap diri sendiri. Bermujahadah bermaksud melatih diri dengan sifat-sifat yang baik dan mengekangnya dari menurut hawa nafsu. Orang yang bermujahadah tidak akan membiarkan dirinya dikontrol hawa nafsunya, sebaliknya dialah yang mengkontrol hawa nafsunya.

Dengan mujahadah, kita mesti melatih dan memaksa diri supaya :

Memastikan matlamat hidup dan berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapainya.

Membuang sikap malas, leka, lalai dan sebagainya tadi.

Memberi perhatian kepada perkara-perkara al-aulawiyat (utama/penting) dalam hidup.

Membuang sikap suka bertangguh.

Rasulullah s.a.w. pernah berpesan memperingatkan kita;

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ، وَاْلفَرَاغُ

“Dua nikmat (kuniaan Allah) yang seringkalikebanyakan manusia tertipu (kerana mensia-siakannya) iaitulah; nikmat sihat dan nikmat kelapangan”.

(Hadis riwayat Imam Bukhari, at-Tarmizi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas r.a.)

Seorang tokoh sufi terkenal Ibnu ‘Athaillah as-Sukandari dalam kitabnya yang masyhur iaitu al-Hikam mensifatkan tabiat suka bertangguh adalah tanda kebodohan yang ada pada diri seseorang. Ia berkata;

إِحَالَتَكَ اْلأَعْمَال عَلى وُجُوْدِ اْلفَرَاغِ مِنْ رُعُوْناَتَ النَّفْسِ

“Menunda/menangguh amal perbuatan(kebaikan) kerana menantikan kesempatan yang lebih baik merupakan suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa”.

Seorang hukama’ Islam pernah menasihatkan kita;

لاَ تُؤَجِّلُ إِلى اْلغَدِ مَا يُمْكِنُكَ أَنْ تَعْمَلَهُ اْليَوْم

Janganlah kamu menunda/menangguh sampai besok apa yang dapat engkau kerjakan hari ini”.

Imam Hasan al-Basri pernah berkata; “Apabila terbit sahaja fajar pada hari baru, ia akan menyeru manusia; ‘Wahai anak Adam! Aku adalah adalah makhluk yang baru. Aku akan menjadi saksi ke atas apa yang kamu lakukan. Gunakanlah aku untuk berbekal dengan beramal soleh. Sesungguhnya aku (apabila berlalu) tidak akan kembali lagi hinggalah menjelangnya kiamat”
[3].

Bagaimana membahagikan waktu?

Seorang muslim mestilah tahu membahagikan masanya mengikut kewajipan yang tertanggung di atas bahunya. Seorang tokoh Islam abad ini, al-Imam asy-Syahid Hasan al Banna berkata;

“Kita diperintahkan supaya mengguna dan membahagikan masa bagi empat tujuan
[4];

1. Untuk agama iaitu melakukan ketaatan kepada Allah merangkumi yang wajib/fardhu dan yang sunat-sunat.

2. Untuk mencari rezki yang halal bagi menyara diri dan keluarga.

مَنْ أَمْسَى كَالاً مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ

"Siapa yang berpetang dalam keadaan penat kerana bekerja/berusaha dengan tangan sendiri maka ia berpetang dalam keadaan dikurniakan keampunan baginya"

(Riwayat Imam at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas r.a.)
[5]

3. Untuk berkhidmat kepada manusia dengan Melakukan perkara-perkara yang mendatangkan manfaat dan faedah bagi mereka.

Sabda Nabi(s.a.w);

مَنْ مَشِيَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ كَمَنِ اْعتَكَفَ فِيْ مَسْجِدِيْ هَذَا شَهْرًا

“Sesiapa yang berjalan(untuk keluar) memenuhi hajat saudaranya ia seolah-olah beriktikaf di masjidKu ini(iaitu masjid Nabawi) selama sebulan”.

4. Untuk kerehatan badan.

Sabda Nabi(s.a.w);

فَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

"Sesungguhnya badan kamu mempunyai hak ke atas kamu".
[6]

Syeikh Tantawi al-Jauhari berpesan kepada kita :

“Apabila munculnya siang maka buatlah penyusunan terhadap kerja-kerja yang akan kamu lakukan pada hari itu mengikut masanya dan jangan melakukan sesuatu kerja bukan pada masanya. Ikutilah perancangan kamu yang awal dan jadikan riadhah/bermain pada masanya yang khusus.

Ambillah contoh/tauladan daripada Nabi kita(s.a.w) dimana baginda membahagikan masanya kepada beberapa bahagian :

-Satu bahagian untuk ibadah
-Satu bahagian untuk manusia iaitu mengajar mereka...
-Satu bahagian untuk diri baginda sendiri....."

(Syeikh Tantawi Jauhari;kitab "ميزان الجواهير"
[7])

[1] Al-Jami’ as-Shaghir, Imam as-Suyuti, hadis no. 1210. Menurut Imam as-Suyuti, hadis ini adalah hasan.

[2] Riyadhus Salihin, Imam an-Nawawi, bab al-Khauf. Menurut Imam at-Tirmizi, hadis ini adalah hasan.

[3] Khuluqul Muslim, Syeikh Muhammad al-Ghazali, hlm. 231.
[4] “حديث الثلاثاء”,Imam Hassan al Banna,m.s 449.
[5] Menurut Imam as-Suyuti; hadis ini darjatnya adalah dhaif. (al-Jami’ as-Shaghir, hadis no. 8532)
[6] Dalam riwayat Imam Ahmad, Bukhari, Muslim dan an-Nasai, lafaznya ialah;

فإن لجسدك عليك حقا

(al-Jami’ as-Shaghir, Imam as-Suyuti, hadis no. 4195)

[7] Mizaanul Jawahir : muka surat 62.

Dipetik daripada artikel nukilan al-fadhil Ust Hj Nasrudin bin Hassan

Saturday, March 12, 2011

10 Tanda Hati Mati




Syeikh Ibrahim Adham menyatakan 10 tanda hati mati iaitu :

1. Mengaku kenal Allah s.w.t tetapi tetapi tidak menunaikan hak- haknya.

2. Mengaku cinta pada Rasulullah s.a.w tetapi tidak menunaikan Sunnah baginda.

3. Membaca al-Quran tetapi tidak beramal dengan hukum- hukum di dalamnya.

4. Memakan nikmat- nikmat Allah s.w.t tetapi tidak mensyukuri atas pemberiannya.

5. Mengaku syaitan itu musuh tetapi tidak berjuang menentangnya

6. Mengaku adanya nikmat syurga tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.

7. Mengaku adanya seksa neraka tetapi tidak berusaha untuk menjahinya.

8. Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa tetapi masih tidak bersedia untuknya.

9. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain tetepi lupa akan keaiban diri sendiri.

10. Menghantarkan dan menguburkan jenazah/ mayat saudara seIslam tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya